Cara Menggabungkan Overhead dan Profit dalam Penyusunan AHSP

Dalam penyusunan Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP), dua komponen yang sering menimbulkan kebingungan adalah overhead dan profit. Banyak penyusun RAB atau HPS memahami bahwa keduanya harus ada, tetapi tidak sedikit yang masih bingung bagaimana cara menggabungkannya secara benar, berapa persen yang wajar, dan bagaimana menempatkannya dalam analisis harga satuan. Padahal kesalahan dalam menggabungkan overhead dan profit dapat menyebabkan harga tidak wajar, temuan audit, atau penawaran tidak realistis.

Artikel ini membahas cara penggabungan overhead dan profit dalam AHSP secara lengkap dan mudah dipahami, dimulai dari pengertian, alasan pencantuman, prinsip perhitungan, formula umum, hingga bagaimana memastikan bahwa angka akhir wajar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perbedaan Overhead dan Profit dalam Konteks AHSP

Sebelum membahas cara penggabungannya, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara kedua komponen tersebut.

Overhead (Biaya Tidak Langsung)

Overhead adalah biaya tidak langsung yang diperlukan untuk menjalankan usaha dan mendukung pekerjaan, namun tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan item pekerjaan tertentu. Contohnya:

  • sewa kantor,
  • listrik, internet, telepon,
  • gaji staf administrasi,
  • biaya legalitas perusahaan,
  • pemeliharaan kendaraan operasional,
  • perizinan dan administrasi tender.

Overhead bukan biaya tambahan sembarangan. Ia adalah komponen pembiayaan nyata yang dibutuhkan agar perusahaan dapat beroperasi.

Profit (Keuntungan Penyedia)

Profit adalah imbalan atas risiko usaha yang ditanggung penyedia, sebagai kompensasi atas modal, tenaga, dan tanggung jawab yang mereka emban dalam melaksanakan pekerjaan. Profit adalah margin yang membuat perusahaan dapat berkembang, membeli alat baru, melatih tenaga kerja, dan bertahan dalam industri.

Profit tidak sama dengan overhead. Overhead adalah biaya operasional, sedangkan profit adalah imbal hasil usaha.

Mengapa Overhead dan Profit Harus Digabungkan dalam AHSP

Pada banyak jenis pekerjaan — khususnya konstruksi, jasa lainnya, dan pengadaan barang tertentu — perhitungan AHSP mengharuskan overhead dan profit digabung menjadi satu angka karena beberapa alasan:

1. Menyederhanakan Struktur Biaya

Jika overhead dan profit dipisah dalam AHSP, akan muncul dua komponen persentase berbeda yang bisa membingungkan penyusun maupun penyedia. Dengan menggabungkannya, struktur harga jauh lebih ringkas.

2. Memudahkan Penyusunan HPS dan Pemeriksaan

Pemeriksa (auditor) lebih mudah menilai kewajaran jika overhead dan profit berada dalam satu angka gabungan. Konsistensi juga lebih mudah dijaga.

3. Mengikuti Praktik Umum Industri

Dalam banyak sektor konstruksi dan jasa konsultansi, gabungan overhead dan profit sudah menjadi standar.

4. Menyamaratakan variasi antar perusahaan

Setiap perusahaan punya struktur overhead yang berbeda. Dengan menggabungkannya, HPS menjadi lebih universal dan tidak terlalu bias pada model bisnis tertentu.

Berapa Persentase Gabungan yang Wajar?

Tidak ada aturan absolut tentang besarnya gabungan overhead dan profit. Namun, berdasarkan standar praktik industri, pengalaman auditor, dan referensi proyek-proyek pemerintah sebelumnya, terdapat kisaran angka yang dianggap layak.

Rentang Wajar Gabungan Overhead + Profit

10% – 20% dari biaya langsung

Rentang ini sudah sangat umum digunakan baik dalam pekerjaan konstruksi, jasa konsultansi tertentu, maupun jasa lainnya yang melibatkan biaya operasional signifikan.

Penjelasan Rentang

  • 10% → untuk pekerjaan yang sederhana, risiko rendah, lokasi mudah, dan waktu pengerjaan singkat.
  • 15% → untuk pekerjaan standar, risiko sedang, dan kebutuhan koordinasi moderat.
  • 20% → untuk pekerjaan kompleks, lokasi terpencil, risiko tinggi, atau pekerjaan yang membutuhkan modal kerja besar.

Jika gabungan lebih tinggi dari 20%, harus ada penjelasan kuat. Jika gabungan di bawah 10%, HPS berisiko tidak realistis.

Komponen yang Sudah Termasuk dalam Gabungan Overhead + Profit

Gabungan ini biasanya mencakup:

  • biaya operasional perusahaan (overhead),
  • biaya administrasi umum,
  • biaya perizinan,
  • cadangan risiko usaha tertentu,
  • margin keuntungan penyedia,
  • modal yang diinvestasikan perusahaan,
  • keuntungan wajar berdasarkan risiko.

Dengan demikian, penyusun HPS tidak perlu lagi menambahkan komponen lain yang sifatnya tidak langsung.

Komponen yang Tidak Termasuk dalam Gabungan Overhead + Profit

Walaupun gabungan ini mencakup banyak hal, ada beberapa komponen yang tidak boleh dimasukkan ke dalamnya:

  • biaya langsung tenaga kerja,
  • biaya langsung bahan/material,
  • biaya langsung peralatan,
  • mobilisasi dan demobilisasi alat berat,
  • biaya transportasi material,
  • biaya perjalanan teknis,
  • biaya supervisi teknis proyek yang sudah disebut sebagai item pekerjaan.

Gabungan overhead + profit hanya mencakup biaya tidak langsung dan keuntungan usaha, bukan biaya teknis pelaksanaan.

Cara Menggabungkan Overhead dan Profit dalam AHSP

Terdapat beberapa langkah sistematis yang dapat digunakan untuk menggabungkan overhead dan profit dalam penyusunan AHSP.

Langkah 1: Hitung Total Biaya Langsung

Biaya langsung mencakup:

  • biaya tenaga kerja,
  • biaya material,
  • biaya peralatan,

yang dihitung berdasarkan koefisien kebutuhan dan harga satuannya.

Contoh:

Biaya tenaga kerja: Rp 50.000
Biaya bahan: Rp 200.000
Biaya peralatan: Rp 30.000

Total biaya langsung = Rp 280.000

Langkah 2: Tentukan Persentase Gabungan Overhead + Profit

Misalnya dipilih angka 15% berdasarkan penilaian risiko.

Langkah 3: Hitung Nilai Overhead + Profit

Formula:

Overhead + Profit = Total biaya langsung × persentase gabungan

300.000 × 15% = 42.000

Langkah 4: Hitung Harga Satuan Akhir

Harga satuan terakhir:

Harga satuan = biaya langsung + overhead + profit

280.000 + 42.000 = Rp 322.000

Metode Alternatif: Menghitung Gabungan Berdasarkan Risiko

Untuk pekerjaan tertentu, gabungan overhead + profit tidak boleh ditetapkan hanya berdasarkan angka standar. Penentuan harus memperhitungkan risiko pekerjaan.

Komponen Risiko Termasuk:

  • risiko cuaca,
  • risiko keterlambatan material,
  • risiko kerusakan alat,
  • risiko lokasi terpencil,
  • risiko kenaikan harga pasar.

Jika total risiko diperkirakan setara 6% dari biaya, dan overhead standar adalah 10%, maka gabungan menjadi:

10% + 6% = 16%

Metode ini lebih detail dan sering dipakai dalam proyek besar.

Kesalahan Umum dalam Menggabungkan Overhead dan Profit

1. Menggunakan angka yang sama untuk semua pekerjaan

Tidak semua pekerjaan memiliki risiko dan kompleksitas yang sama. Menggunakan satu angka untuk semua pekerjaan membuat HPS tidak akurat.

2. Memasukkan biaya langsung ke dalam overhead

Seperti transportasi bahan atau mobilisasi alat berat. Ini tidak tepat dan menyebabkan distorsi harga.

3. Menetapkan gabungan terlalu kecil

Gabungan 3–5% hampir pasti tidak realistis dan rentan dipertanyakan auditor.

4. Menetapkan gabungan terlalu besar

Gabungan >20% tanpa alasan khusus dianggap tidak wajar dan berpotensi menjadi temuan audit.

Bagaimana Auditor Menilai Gabungan Overhead dan Profit

Auditor memastikan gabungan wajar dan konsisten berdasarkan:

  • perbandingan dengan proyek sebelumnya,
  • risiko pekerjaan,
  • lokasi proyek,
  • logika perhitungan AHSP,
  • kesesuaian dengan praktik industri.

Jika gabungan berada pada kisaran 10–20% dan didukung penjelasan, auditor biasanya menerimanya.

Contoh Praktik Kombinasi Overhead + Profit pada Berbagai Jenis Pekerjaan

1. Pekerjaan konstruksi sederhana (misalnya pekerjaan plesteran)

Risiko rendah → gabungan 10–12%

2. Pekerjaan MEP (mekanikal, elektrikal, plumbing)

Risiko sedang → gabungan 12–15%

3. Pekerjaan alat berat atau pekerjaan tanah

Risiko sedang-tinggi → gabungan 15–18%

4. Proyek di daerah terpencil

Risiko tinggi → gabungan 18–20%

Kesimpulan

Menggabungkan overhead dan profit dalam AHSP merupakan langkah penting untuk menghasilkan harga satuan yang realistis, kompetitif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Gabungan overhead + profit umumnya berada pada kisaran:

10% – 20% dari biaya langsung

Namun angkanya tetap harus mempertimbangkan:

  • risiko,
  • lokasi,
  • durasi,
  • kompleksitas pekerjaan,
  • karakter penyedia,
  • kebutuhan teknis proyek.

Gabungan yang terlalu kecil atau terlalu besar sama-sama berpotensi menimbulkan masalah. Dengan memahami prinsip-prinsip ini, penyusunan AHSP menjadi lebih jelas, logis, dan sesuai standar praktik terbaik.