Cara Menentukan Keuntungan yang Wajar dalam Penyusunan HPS

Menentukan keuntungan yang wajar adalah salah satu bagian paling sensitif dalam penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Banyak PPK, pokja, maupun penyedia yang paham apa itu harga bahan, harga alat, atau harga tenaga kerja. Namun ketika masuk ke komponen keuntungan (profit), pembahasannya sering terasa kabur. Ada yang menganggap profit sudah pasti 10%. Ada yang memasukkan angka tinggi tanpa dasar. Ada pula yang sengaja membuat profit sangat kecil agar HPS tampak murah.

Padahal keuntungan bukan sekadar angka tambahan. Profit adalah bagian yang menentukan apakah penyedia dapat menjalankan pekerjaan dengan sehat, apakah risiko pekerjaan dapat ditanggung, dan apakah penyedia memiliki insentif untuk memberikan kualitas terbaik. Tanpa profit yang wajar, penyedia bisa rugi. Sebaliknya, profit yang terlalu besar membuat HPS menjadi tidak efisien dan berpotensi menimbulkan temuan audit.

Artikel ini membahas secara lengkap bagaimana menentukan keuntungan yang wajar dalam HPS, apa saja pertimbangannya, faktor risiko yang harus dihitung, serta bagaimana auditor menilai kewajaran profit.

Mengapa Keuntungan Harus Ada dalam HPS

Keuntungan adalah komponen yang wajib dicantumkan dalam struktur biaya HPS. Ini bukan hadiah untuk penyedia, melainkan kompensasi atas risiko usaha, modal yang ditanamkan, waktu yang digunakan, serta tanggung jawab yang ditanggung penyedia.

Beberapa alasan profit harus selalu ada:

1. Penyedia adalah badan usaha

Badan usaha wajib menjalankan operasional agar dapat bertahan. Tanpa profit, penyedia tidak bisa mengembangkan diri, membeli alat baru, atau memperbaiki sistem kerja.

2. Profit menjadi kompensasi atas risiko

Hampir semua pekerjaan pengadaan memiliki risiko, seperti:

  • fluktuasi harga bahan,
  • cuaca,
  • kerusakan alat,
  • keterlambatan material,
  • perubahan kondisi lapangan.

Profit membantu penyedia menanggung risiko tersebut.

3. Profit menjadi insentif kualitas

Penyedia dengan profit yang wajar akan punya cukup ruang untuk menjaga kualitas pekerjaan, bukan sekadar mengejar harga termurah.

4. Profit menjaga keberlanjutan usaha

Tanpa keuntungan, penyedia tidak bisa membayar pajak, memperbaiki kendaraan operasional, atau mempertahankan tenaga ahli.

Karena itu, HPS yang tidak memuat profit sebenarnya tidak mencerminkan realitas usaha penyedia.

Komponen Apa Saja yang Menentukan Besarnya Profit

Keuntungan tidak bisa ditentukan secara asal-asalan. Ada beberapa faktor yang harus dianalisis sebelum menempatkan angka profit dalam HPS.

1. Risiko Pekerjaan

Semakin tinggi risiko pekerjaan, semakin besar profit yang diperlukan.

Contoh pekerjaan risiko tinggi:

  • pekerjaan konstruksi di lokasi terpencil,
  • pekerjaan dengan cuaca tidak menentu,
  • pekerjaan yang membutuhkan alat berat khusus,
  • pekerjaan dengan potensi revisi desain.

Risiko tinggi → profit wajar lebih tinggi.

2. Kompleksitas Pekerjaan

Pekerjaan yang memerlukan banyak keahlian teknis, supervisi berlapis, atau koordinasi intensif membutuhkan profit lebih besar.

Sebaliknya, pekerjaan sederhana seperti pengadaan alat tulis kantor memiliki risiko dan kompleksitas rendah sehingga profit wajar lebih kecil.

3. Durasi Pekerjaan

Semakin lama durasi pekerjaan, semakin banyak biaya operasional penyedia. Profit harus mampu menutup risiko jangka panjang.

4. Modal yang Ditanamkan

Pekerjaan yang membutuhkan modal awal besar membutuhkan profit yang lebih tinggi.

Misalnya:

  • penyedia harus membeli bahan dalam jumlah besar,
  • penyedia harus mendatangkan alat berat,
  • penyedia harus menambah tenaga kerja tambahan.

Modal besar → profit tidak bisa kecil.

5. Kondisi Lokasi Proyek

Lokasi menentukan biaya logistik.

Contoh:

  • di daerah perkotaan yang aksesnya mudah → profit wajar relatif kecil,
  • di daerah pegunungan atau kepulauan → profit wajar lebih besar.

6. Jumlah Pesaing di Pasar

Pada pekerjaan yang umum dan banyak penyedia, profit biasanya lebih kecil. Pada pekerjaan khusus yang hanya bisa dilakukan perusahaan tertentu, profit cenderung lebih besar.

Berapa Profit yang Wajar Menurut Praktik Industri

Tidak ada aturan mutlak yang menetapkan besarnya profit. Namun berdasarkan praktik umum, pengalaman auditor, dokumen proyek, serta referensi konsultan, terdapat kisaran angka yang dianggap wajar:

Profit wajar berada pada angka:

5% – 15% dari total biaya langsung

Adapun jika profit digabungkan dengan overhead, maka nilai gabungan wajar berada pada:

10% – 20% dari biaya langsung

Angka ini bukan wajib, tetapi mencerminkan:

  • standar industri konstruksi,
  • kebiasaan perusahaan jasa,
  • pengalaman auditor di berbagai proyek,
  • struktur biaya penyedia.

Jika profit berada di luar rentang tersebut, HPS masih mungkin wajar, tetapi harus disertai alasan kuat.

Apa Risiko Jika Profit Terlalu Kecil

Profit yang terlalu kecil membuat harga tampak murah, tetapi sebenarnya berbahaya baik bagi penyedia maupun kualitas pekerjaan. Berikut risikonya:

1. Penyedia tidak bisa menanggung risiko

Jika terjadi kenaikan harga bahan atau cuaca buruk, penyedia tidak memiliki ruang finansial untuk menutup biaya tambahan.

2. Penyedia mungkin menurunkan kualitas

Untuk menutupi kekurangan, penyedia bisa melakukan:

  • pengurangan spesifikasi,
  • mengurangi jumlah tenaga kerja,
  • mengurangi pengawasan lapangan.

3. Penyedia bisa terlambat bayar tenaga kerja

Keterlambatan pembayaran tenaga kerja menimbulkan dampak berantai pada kelancaran pekerjaan.

4. Risiko penyedia gagal menyelesaikan pekerjaan

Penyedia yang merugi mungkin tidak sanggup menyelesaikan pekerjaan atau bahkan menghentikan kontrak secara sepihak.

5. Penawaran tidak realistis

Tender dengan profit sangat rendah sering berakhir pada pekerjaan yang bermasalah.

Apa Risiko Jika Profit Terlalu Besar

Sama berbahayanya dengan profit terlalu kecil, profit terlalu besar juga menimbulkan masalah.

1. HPS tampak tidak wajar

Auditor akan mempertanyakan dasar profit besar. Tanpa penjelasan, angka tersebut dianggap pemborosan.

2. Anggaran menjadi boros

Profit besar meningkatkan nilai HPS sehingga anggaran yang dibutuhkan menjadi lebih besar dari seharusnya.

3. Mendorong persaingan tidak sehat

Jika HPS sangat besar, penyedia akan memasukkan harga di bawahnya. Penurunan harga drastis menghasilkan penawaran tidak realistis.

4. Pekerjaan menjadi tidak efisien

Jika penyedia memberi harga terlalu tinggi, pemerintah membayar lebih dari yang semestinya.

Cara Menghitung Profit Secara Logis dalam HPS

Untuk menentukan profit yang wajar, ada tiga pendekatan yang dapat digunakan:

Pendekatan 1: Persentase Umum Industri

Gunakan rentang:

  • Profit 5% – 15%
  • Profit + overhead 10% – 20%

Ini adalah cara tercepat dan paling mudah digunakan ketika waktu penyusunan HPS terbatas. Namun tetap harus menilai risiko proyek agar angka tidak kaku.

Pendekatan 2: Analisis Risiko Pekerjaan (Risk-Based Method)

Pendekatan ini digunakan pada pekerjaan yang memiliki risiko bervariasi.

Langkah-langkahnya:

  1. Identifikasi seluruh risiko pekerjaan.
  2. Hitung potensi biaya tambahan dari masing-masing risiko.
  3. Tambahkan cadangan risiko ke profit.

Misalnya:

  • risiko cuaca: potensi biaya tambahan 2%,
  • risiko kenaikan bahan: potensi 3%,
  • risiko alat: 1%.

Total profit wajar: 6% – 12%.

Pendekatan ini memberikan profit yang sesuai dengan realitas.

Pendekatan 3: Berdasarkan Struktur Keuangan Penyedia

Cara ini paling akurat tetapi jarang digunakan dalam HPS pemerintahan karena data internal penyedia tidak dapat diakses. Namun untuk penyedia sendiri, metode ini sangat penting.

Caranya:

  1. Analisis biaya operasional bulanan perusahaan.
  2. Analisis modal kerja yang ditanam untuk proyek.
  3. Tentukan tingkat keuntungan minimal untuk menjaga arus kas.

Misalnya:

  • modal kerja proyek: Rp 1 miliar,
  • biaya operasional bulanan: Rp 100 juta,
  • risiko tambahan 2%.

Maka penyedia membutuhkan minimal 10% profit agar usaha bisa berjalan.

Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan dalam Menentukan Profit

1. Jenis Barang atau Jasa

Pengadaan barang sederhana biasanya profit kecil.
Pekerjaan dengan bahan impor atau alat berat bisa memiliki profit lebih besar.

2. Kedalaman Kebutuhan Teknis

Semakin detail pekerjaan, semakin besar upaya teknis penyedia.

3. Tingkat Persaingan

Jika banyak penyedia mampu mengerjakan pekerjaan tersebut, profit industri cenderung kecil.

4. Pengalaman Penyedia

Penyedia berpengalaman biasanya lebih efisien sehingga profit wajar bisa lebih kecil.

Bagaimana Auditor Menilai Kewajaran Profit

Auditor melihat profit berdasarkan:

1. Konsistensi dengan Proyek Sejenis

Jika proyek sebelumnya profitnya 10%, dan sekarang profitnya 20% tanpa alasan, auditor akan bertanya.

2. Risiko Pekerjaan

Proyek berisiko tinggi dapat menerima profit lebih tinggi.

3. Lokasi dan Aksesibilitas

Lokasi sulit → profit lebih besar diterima.

4. Justifikasi Logis

Jika penyusun HPS mampu menjelaskan alasan profit tertentu, auditor biasanya menerima.

Kesimpulan

Menentukan keuntungan yang wajar bukanlah proses menebak angka. Profit harus dihitung berdasarkan risiko, kompleksitas pekerjaan, modal yang ditanamkan, serta kondisi lapangan. Profit yang terlalu kecil berisiko membuat penyedia rugi dan menurunkan kualitas pekerjaan. Profit yang terlalu besar membuat anggaran tidak efisien dan berpotensi menimbulkan temuan.

Secara umum, profit yang wajar dalam penyusunan HPS berada pada kisaran:

  • 5% – 15% sebagai standar umum industri,
  • atau 10% – 20% jika dikombinasikan dengan overhead.

Namun angka akhir harus disesuaikan dengan karakter proyek. Profit yang wajar akan menghasilkan kompetisi sehat, pelaksanaan pekerjaan yang berkualitas, dan anggaran yang efisien.